Sunday, January 21, 2007

Tarian Rajah

Akhir tahun 2006, belom turun andrenalin setelah ngerjain project untuk adFest, Godot ngajakin ikut partsisipasi di projet Massive Territory.

Damn! Deadline submission yang mepet, banyak kerjaan pitching di kantor dan pastinya ngorbanin liburan akhir tahun.
Perhelatan new media art yang mengundang para designer dan artist yang tumbuh di jalanan namun telah berhasil mengubah wajah dunia dalam sepuluh tahun terakhir. Bukan hanya graphic itu sendiri, tapi demamnya telah mengkontaminasi hingga dunia fashion, advertising, film, sport, food n beverages, etc.

Dunia underground itulah yang selalu menyentuh ego
saya.
Sehingga saya langsung nyatain: I'm in!


title :: tattoo machine waltz :: dim. 60 x 84 cm // JPEG 300 dpi

Ngomong-ngomong soal urbanart/streetculture/underground, maka salah satu yang akrab banget dengan
saya adalah dunia pertatoan.

Tattoo punya makna spiritual buat
saya: estetika, pengedalian, pelepasan, integrasi, perjuangan, chronica, statement juga menyimpan suatu energi keriaan.

Tahun 1996 pertama kali
saya ditattoo, by Pure Black Tattoo, Jogja. Sejak itu saya makin akrab dengan dunia tattoo, mulai belajar bikin tattoo, merakit mesin tattoo yang lebih stylist, sempet nyediain punggung saya sebagai canvas buat temen-temen yang serius pengen belajar tattoo, meregistrasi dan membuat peta tattoo artist di jogja, ngerealisasiin tattoo expo pertama di indonesia..
Lalu 1998 ngajakin Munir berkolaborasi membuka Bedebah Tattoo Shop, salah satu sub bisnis dari Bedebah yang di 1997 adalah distro pertama di jogja.
Saat ini Munir telah berhasil menjalankan bisnisnya tattoo shop-nya sendiri. (selamat ulang tahun ke-7 Toxic tattooPark! )


Akhirnya sebulan lalu, setelah 6 tahun kulit
saya absen dari jarum tattoo, akhirnya kesempatan menjalani ritual sakral itu datang juga. Waktu pertama kembali masuk studio Toxic sempet ngedrop, karena nggak pede pada stamina fisik yang udah nambah enam tahun. Tapi bukannya andrenalin itu yang dicari? Andrenalin yang mengusik comfort zone kita, sehingga membangkitkan Fighting Spirit primata-primitif kita.

Setelah 4.5 jam lengan
saya dihajar ribuan jarum, kami sepakat ngelanjutin di next chapter, secara fisik saya emang udah beda.. (otot perut saya mengalami kram hebat) padahal dulu saya sanggup bertahan 8 jam, dari rata-rata kemampuan manusia 3.5 jam/hari untuk proses tattoo.

Dan, kembalinya tarian mesin rajah di badan
saya sepertinya perlu dicelebrate, ikut dirayakan bersama kemenangan teman-teman dari jalanan penjuru dunia mengubah kiblat estetika mainstream.

:: MASSIVE TERRITORY ::
design conference & exhibition
saturday :: january 20.2007 // Galeri Nasional Indonesia