Thursday, February 16, 2006

About Being Single, a mr. G's assignment


















"Do you spend time with your family?

Good. Because a man who doesn't spend time with his family can never be a real man."

- Don Vito Corleone, The Godfather (1972)


Akhir-akhir ini gw jadi sering mikirin omongan si Don yang satu ini.
Sebuah ucapan yang dilahirkan dari tingkat kesadaran tertentu
tentang pemahaman hidup (dan kematian tentunya).

Setidaknya itulah kerugian menjalani kehidupan berselibat,
kalo dilihat dari makna harafiahnya maka sampai kapan pun
gw tak akan pernah menjadi ‘a real man’.

Tak akan pernah merasakan hangatnya pelukan anak-anak yang lucu mencerahkan dunia ato setelah lima belas tahun kemudian bisa begitu menyebalkan bahkan mengantar kita lebih cepat ke liang kubur.
Tak akan pernah merasakan dilayani ato melayani seorang perempuan
yang melantangkan janji sehidup-semati di sebuah seremoni suci.
Ato merasa habisnya dikhianati.

Namun pengertian keluarga tidak sekedar bentuk terkecil
dari keluarga saja. Ayah, ibu, kakak lalu adik. Ato kadang-kadang menadapat bonus eyang kakung ato putri dan oom ato tante.

Bila tidak, maka para kardinal, Sidharta,
ato bahkan Kristus bukanlah a Real Man.


Keluarga yang lebih besar ,
Undangan makan malam Natal di keluarga anu.
Undangan lebaran di keluarga itu.
Pesta valentine di lingkungan inu.
Bermalam di rumah si A.
Traveling bersama si B.
Mengalir begitu saja.
Tak ada tujuan.
Tak ada yang mengikat.

Tapi kembali gw berpikir tentang omongan si Don.
Kayaknya gw juga mulai kekurangan waktu untuk melakukan beberapa point di paragraph atas. Banyak undangan pesta, undangan bekumpul, undangan bermalam yang nggak bisa gw luluskan.

Ada yang salahkah?

Tapi kembali lagi, menjalani hidup adalah soal pilihan.
Tapi mempunyai sebuah keluarga yang hangat
adalah sebuah Anugerah.


*
Family on Wikipedia

Memberontak untuk Ditindas

"Sial, gue ke gep nih, ntar harus ke ruang keparat itu".
"Lo juga sih, pake sok-sok-an di sekolah".

ato..

"Ngapain sih lo? blingsatan aja bawaannya?"
"Gila! Di sini gak ada warung ya?!!"
"Ntar, 20 kilo lagi kaleee".

ato..

"Mampus sob, lo ada duit gak? pinjem dulu dong".
"Pake aja punya gue dulu, gue juga lagi kering nih".

ato..

"Anjing! Mampet nih, gue keluar bentar".
"Ngapain?"
"Bakar-bakar dulu lah".

ato..

"Ini makin parah, saya sarankan, anda segera berhenti".

ato..

"Maaf, janin anda mungkin akan lahir cacat".

Tujuan dasr pemberontakan adalah untuk melawan dan mengahiri sebuah system yang menekan dan menzolimi, dengan tujuan kehidupan yang lebih baik lahir dan batin.

Tetepi beberapa contoh pembicaraan di atas gw rasa jauh dari tujuan sebuah tujuan mulia untuk memuliakan kehidupan.

Gw pikir ini adalah bisnis yang lebih keji dari pada perdagangan senjata, karena sebatang rokok bahkan tak punya safety lock switch.

"Ayo bakar lagi! mana keren cuman diem gitu doang!"...